6 Tips Untuk Penulis Non Fiksi

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. – Imam Al-Ghazali

writing
Sumber: 

http://www.al-fanarmedia.org/2016/09/writing-academic-books-youre-not-academic/

Pasti sebagian besar diantara kamu pernah bahkan sering mendengar kutipan di atas. Jika belum, maka kamu baru saja membacanya. Menjadi penulis merupakan pekerjaan sepanjang hidup sih menurut saya. Karena dengan menulis sesungguhnya kita sedang mengikat ilmu yang kita punya. Membagikan pengetahuan dan pemikiran kita kepada orang lain, sehingga orang lain juga mengetahui sesuatu yang tidak mereka tahu.

Apapun jenis tulisan kita, fiksi maupun non-fiksi, tidak ada yang mempermasalahkan. Karena menulis bukan soal benar-salah, tapi bagaimana kita berkomitmen untuk menyelesaikan tulisan yang sudah kita mulai. Jika kamu tertarik untuk menulis cerpen, novel, atau puisi ya, tulis. Atau kamu lebih suka menulis non-fiksi, tulis. Keduanya sama, sama-sama menulis.

Menulis juga membuat kita kekal meski sudah tidak lagi bermukin di dunia. Tidak perlu menjadi hebat untuk menjadi penulis. Seperti kutipan di atas, jika kamu bukan siapa-siapa, maka jadilah penulis. Jika kamu tidak punya cerita kehidupan yang menarik, maka tulislah cerita hidup orang lain. Tulislah apa yang kamu tahu. Karena menulis adalah sebuah keberanian, kata pak Pramoedya Ananta Toer.

Namun, terkadang orang merasa takut dan minder terlebih dahulu dengan hasil tulisannya. Takut dikomentarin jelek lah, takut gak tembus penerbit, takut tema tulisannya gak menarik, dan ketakutan-ketakutan lain yang sebenarnya berasal dari pemikiran sendiri. Anggapan pribadi saja, toh belum dicoba udah takut.

mari-jadi-penulis

Nah, akhir Januari lalu saya berkesempatan untuk diskusi dengan salah satu editor penerbitan yang cukup terkenal di Indonesia, anak perusahaan dari Gramedia Pustaka Utama, Quanta. Maka dari itu saya mau berbagi beberapa tips buat yang mau jadi penulis buku non-fiksi.

  1. Perbanyak baca buku

Membaca adalah kunci utama menjadi seorang penulis. apapun jenis tulisannya. Tidak hanya untuk menulis tulisan non fiksi saja, tetapi menulis cerita fiksi pun juga harus banyak membaca. Bagaimana mungkin kamu bisa menyelesaikan tulisan kamu jika kamu tidak memperkaya pikiran sendiri terlebih dahulu. Jika pikiran kosong alias gak ada isinya, lalu apa yang mau dibagikan kepada pembaca? Maka, perlu bahkan wajib hukumnya untuk seorang penulis itu banyak membaca. Buku apa saja, karena sejatinya dalam setiap tulisan, ada ilmu dan pengetahuan yang kita dapatkan. Buat kamu yang di Pekanbaru, bisa baca postingan ini kalo mau berburu buku murah. Biar koleksi bukumu tambah banyak.

  1. Jangan tulis sesuatu yang sifatnya “lagi ngetrend” dan “be yourself

Sering sekali kita lihat di toko-toko buku kadang ada musimannya buku tentang ini, buku tentang itu. Sekalinya buku tentang A laris dan best-seller nanti bakal bermunculan buku sejenis bagai jamur. Misalnya, tahun ini lagi trend buku tentang bagaimana menjadi kaya. Nah, nanti bakal banyak sekali buku-buku yang membahas hal serupa. Tulislah sesuatu yang unik, berbeda, dan sesuai dengan diri kamu. Tulisan-tulisan yang unik dan “kamu banget” itu bakal bertahan lama, dan biasanya punya daya pikat tersendiri, sehingga ketika orang dengar nama kamu, maka yang terlintas juga tulisan dan pemikiran kamu. Jadi dalam menulis juga sangat penting untuk memasukkan unsure “kamu” dalam tulisan tersebut.

  1. Tulis topik-topik yang bertahan lama

Maksudnya adalah, usahakan menulis ide-ide atau tema yang kira-kira akan bertahan lama, tidak hanya untuk moment tertentu. Sehingga tulisaan atau buku yang kamu tulis akan terus dilirik karena tidak termakan zaman.

  1. Hindari plagiat

Ini penting banget. Ketika kamu menulis jangan sampai tulisan kamu banyak mengambil dari internet tanpa keterangan. Main ambil dan comot sesuka hati. Biasanya tulisan seperti ini dipastikan tidak akan dilirk oleh editor dari penerbit manapun. Dan ini juga sangat dilarang keras.

  1. Jangan sampai menyinggung unsur SARA

Sebagai penulis, jangan sampai dalam tulisan kamu menyinggung dan menyudutkan atau mendiskreditkan golongan tertentu. Hal tersebut sangat sensitif, jadi sangat tidak disarankan untuk menulis hal-hal yang berbau semacam itu.

  1. Jangan egosentris atau narsis

Tulisan yang tidak open minded dan sedikit berbau narsis seringkali menjadikan naskah tersebut ditolak berbagai penerbit. Dalam menulis kita memang menuangkan ide dan pemikiran ita, tapi bukan berarti kita tidak berkaca dan membandingkannya dengan pemikiran orang lain yang sudah ada sebelumnya. Menganggap hanya pemikiran kita yang benar dan membanggakan diri sendiri. please, hindari yang seperti ini.

Jika tertarik mendalami penulisan buku nonfiksi, silakan kunjungi TipsMenulisBuku.com. Di blog tersebut, Anda akan mempelajari sejumlah kiat teruji menulis buku nonfiksi seperti EYD, membuat kerangka buku, meriset referensi agar buku Anda lebih berbobot, membuat judul buku yang menarik, dan menjadi penulis buku yang percaya diri.

Semoga dengan postingan ini kamu jadi bersemangat untuk menulis dan menyelesaikan tulisan kamu yang sempat terbengkalai. Mari mulai menulis dari sekarang!

Advertisements

3 thoughts on “6 Tips Untuk Penulis Non Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s