Book Review: Critical Eleven, Ale dan Anya Jadi Nyata

Ini adalah kali kedua aku ngebahas novel paling fenomenal yang ceritanya bikin aku kayak orang gila pas lagi bacanya. Apalagi kalo bukan Critical Eleven by Ika Natassa, the most favorite novel ever! Baca ulasan pertamanya disini.

img_8572

 

Jujur aja, dulu aku tuh kayak mikir gini: “ngapain sih baca novel yang sama berkali-kali, kayak gak ada novel lain aja.” Nah, entah kenapa novel ini selalu bikin aku kangen. Kangen, Ale, kangen Anya, kangen cerita hidup mereka, kangen semua hal yang ada dalam novel ini. Sumpah, ini novel pertama yang sukses buat aku menjadi bukan diri aku sendiri, melakukan sesuatu yang dulunya aku cela haha

Jika kalian belum baca –sumpah, kamu keterlaluan banget kalo belum baca novel terbitan Gramedia yang best seller ini- dua karakter  utama  dalam novel ini ada Tanya Baskoro/Anya dan Aldebaran Risjad/Ale. Sepasang anak manusia yang awalnya ketemu di pesawat Jakarta-Sidney hingga akhirnya menikah.

Aku suka banget filosofi dari judulnya. Jadi maksud dari Critical Eleven ini sebenarnya dari istilah dunia penerbangan. Dimana ada sebelas menit yang krusial dalam dunia penerbangan itu yang seringnya terjadi kecelakaan. Sama halnya dengan dalam hidup, ada sebelas menit yang menentukan ketika kita bertemu orang baru. Tiga menit diawal adalah proses pembentukan kesan terhadap orang baru, lalu delapan menit sebelum berpisah kita akan menentukan apakah jadi awal dari sesuatu atau perpisahan selamanya. Setelah membaca novel inilah aku baru sadar dan setuju banget dengan istilah critical eleven ini. bagian ini aja udah bikin baper uhuuu–

Kalo mau tau kisahnya tentang apa, baca aja review aku yang pertama yah. Soalnya kali ini aku mau ngebahas Why do I love this novel so fucking much?

img_8558

  1. Jalan cerita yang smooth Jadi ceritanya tuh emang benar-benar kayak real life banget. Gak ada sedikitpun terlihat dipaksain. Kak Ika menurut aku hebat banget. Bukan bermaksud membandingkan novel ini dengan novel lain yah, tapi banyak banget novel yang ceritanya terlihat banget khayalan dan ceritanya dipaksain, gimana harus gini harus gitu tapi gak smooth. Inilah yang buat aku falling in love sama novel CE from the first time I read! Dan sampai sekarang gak ada yang bisa gantiin novel ini di hati aku. Novel ini aku rekomendasiin sama hampir semua teman aku yang mau minnjem novel sama aku. Haha, dan mereka punya pendapat yang sama dengan aku: Love this Novel!
  2. The Characters look like real. Semua yang udah baca pasti setuju dong dengan alasan yang kedua ini. Haha, apalagi si Ale. Ya Allah, andai aja Ale beneran ada di dunia nyata, pasti udah aku kejar-kejar. Damn, He’s so perfect! Malah kalo aku bilang, sih, too good to be true. Kalopun ada cowok kayak lip-monsternya-Anya itu paling satu banding seribu orang, susah nyarinya. Jadinya standar cowok idaman menurut aku ya Ale, makanya sampe sekarang masih sendiri *eh xD Kak Ika tanggung jawaaaaaab, aku mau Ale!

12

“Aku ingin dicintai seperti Ale mencintai Anya: Tanpa rencana. Tanpa jeda. Tanpa terbata-bata.

  1. Penyampaian cerita yang berbeda. Sekali lagi aku saut sama Kak Ika Natassa. CE setiap babnya disampaikan dari sudut pandang Ale dan Anya bergantian, jadi kayak puzzle Yang bikin renyah itu adalah Kak Ika bisa jadi dua orang yang berbeda, bisa jadi Anya dan bisa jadi Ale dengan karakter masing-masing. Kebayang kan hebatnya itu? Baca novel ini kayak kita lagi dengerin Anya sama Ale curhat. Kita tau ceritanya dari kedua sudut pandang tokoh utamanya. Emang benar seperti yang dibilang synopsis di cover belakang novel, kita bisa benci sama tokohnya, sewaktu-waktu cinta mati sama sifatnya dan bahkan keduanya. Duh, kamu gak bakal tau rasanya apa maksud kalimat aku barusan sampe kalian baca beneran novelnya. Aku juga suka percakapan-percakapan di dalamnya. Sehari-hari banget! Bahkan aku sampe pengen tahu Kak Ika temenannya sama siapa aja yah sampe tulisannya serenyah ini. Conversation yang sederhana bahkan kadang gila-gilaan tapi itu ngena dan daily conversations banget, loh! Asik aja, ringan, dan elegan. Aaah, I love the way you deliver the messages, Kak!
  2. Strategi marketing novel yang luar biasa okenya. Haha, ini oke banget! Bayangin, Aku gak bisa ngebadain entah Kak Ika berusaha ngebawa tokohnya ke dalam dunia nyata atau kita pembacanya di bawa ke dunia fiktif yang dibangunnya, I dunno. Yang jelas aku sendiri sukses dibuat baper sama Kak Ika. Jika kalian fanatic sama Ale dan Anya sefanatik aku pasti tau kalo di twitter ada akun tokoh-tokoh novelnya Kak Ika. Mulai dari Ale, Anya, Keara, Harris, dan mungkin juga ada yang lain, tapi cuma empat itu yang aku follow. Harris dan Keara itu tokoh di Antologi Rasa. Followersnya udah ribuan, loh! Terus kadang hari-hari tertentu kita akan dibuat hanyut menyimak percakapan empat orang itu saling mention-mentionan. Kayak nyata gak sih? Selain itu, novel satu dengan yang lain dibuat saling berkaitan gitu. CE itu ada Harris dan Keara juga di dalamnya. Kalo yang udah baca The Architecture of Love juga ada Ale, Anya, Key, dan Harris. Makin terlihat seperti nyatalah itu orang-orang haha. Dan, kalo kalian emang cinta sama novel CE pasti tau kalo di YouTube ada loh lagu –entah itu soundtrack film CE apa cuma lagu Ale buat si Anya doang- yang ditulis sama Ika Natassa kolaborasi sama Bayu Kristanto dan Tito Munandar. Coba aja deh baca novelnya sambil putar lagu ini, gilaaaaak galau plus baper maksimal. I said once again, Ale is too perfect!
  1. Ika Natassa penulis yang ‘berani’. Yap, tau gak yang buat aku suka banget sama novel-novel nya Kak Ika adalah dia menurutku penulis yang berani. Berani mengutarakan pesan lewat buku-bukunya, menceritakan kehidupan metropolitan, pergaulan masyarakat urban seperti apa. Dari bukunya kita udah dapet gambarannya gimana, dan genre tulisan seperti ini aku suka. Gak berat! Berani menulis kisah cinta, yah, meskipun agak wild, tapi kenyataannya ya gitu. Pesan yang disampaikannya dalem. Kayak CE aja misalnya, kadang kita gak sadar menyakiti seseorang lewat kata-kata. Mungkin menurut kita itu biasa aja, tapi bagi orang lain kata-kata yang kita ucapkan itu nusuk banget. Meskipun sama orang yang amat sangat kita cintai. Itu baru satu pesan aja. Pesan yang disampaikan itu dibungkus dengan cerita-cerita ringan yang menghibur banget. Rekomendasi banget pokoknya ini novel!

meme2Finally, Mr. Aldebaran Risjad dan Mrs. Tanya Baskoro bakal jadi nyataaaaa!

Ngomongin soal film Critical Eleven, *yihaaaaa* mungkin aku juga masuk dalam jajaran orang yang bahagia banget pas tau awal-awalnya ini bakal dibuatin filemnya. Meskipun di lain sisi artinya imajinasi kita bakal dirusak sama tampilan visual yang biasanya sih gak sesuai ekspektasi pembaca. Jujur aja aku rada takut dan khawatir juga (gue bukan siapa-siapa tapi khawatirnya ngalahin Mbak Ika pula, wkwk). Takutnya nanti imajinasi aku yang setinggi langit ini tentang cerita di novel, eh, pas nonton filemnya jadi rusak. Belum lagi menurut aku gak ada artis yang cocok buat meranin tokoh Ale dan Anya. Karena rata-rata kita udah pada tau, kan, karakter artis-artis yang biasa main filem layar lebar gimana. Jadi aku agak ragu perannya Ale dan Anya ini gak pas sama mereka (siapapun itu karena awalnya gak ada yang tau siapa castnya CE).

Baca review film Critical Eleven disini.

Aku malah sempat mikir bagusnya yang jadi Ale-Anya iitu bukan dari kalangan artis, jadi kayak surprise gitu jadinya. Cuma pasti susah, ya kan. Dan, tadaaaaaaa…. Beberapa minggu lalu Mbak Ika dan Legacy Pictures nya ngerilis resmi bahkan memutar filemnya buat beberapa orang saja, di sosial media infonya banyak bahkan ada bocoran teasernya. Sumpah, I lost words, only ‘Awesome’ on my mind! Gilaaaak, si Reza Rahardian dan Adinia Wirasti cocok banget disitu. Reza di filem itu bikin meleleh. Sumpah, gue gak bohong! Gak sabar aku buat nonton bulan Mei ntar. Wajib nonton pokoknya!

Meski agak syok awalnya sama cover filem Critical Eleven yang nampilin adegan ciuman itu, tapi setelah aku kenal karakter novelnya Kak Ika aku bisa maklum. Ya, itu, Kak Ika sosok yang berani menurut aku, jadi mesti berani juga dong di filmnya. Nampilin suatu yang beda. Ketika kamu paham karakter tulisan-tulisan Kak Ika, then kalian akan tau dan bisa ngerti sendiri. Wajar aja sih covernya seperti itu menurut aku. Semakin bikin kita gak sabar buat lihat gimana si reza dan Adinia jadi Ale dan Anya.

Aku berharapnya sih semoga filmnya gak mengecewakan. Gak jauh dari novel tapi ada something new yang bakal penonton saksikan. Dimprovisasi tapi gak mengurangi taste dan gak keluar jalur novelnya. Semoga pembaca novel ini puas dengan karya besar ini. Aaaak, gak sabar. Yang pasti mereka tim produksi film ini pasti udah maksimal buat ngasih yang terbaik buat fans-fans Kak Ika khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Advertisements

4 thoughts on “Book Review: Critical Eleven, Ale dan Anya Jadi Nyata

  1. Kok jadi ngerasa seperti sosok Ale ya Gan setelah membaca tulisan ini? Hahahaha… Pede banged gua. Btw, tulisannya menarik. Jadi penasaran pengen baca, ntar tak search di Pontianak ada gak bukunya. Thanks anyway…

  2. waaa aku juga tergila-gila banget sama CE inii. Pernah bikin review nya juga di blog-ku^^ #teamAle garis keras ya, kita? hahaha

    Btw, nice review! Selama baca review ini dalam hati aku sambil bilang, “iya, bener banget. bener banget.” hehehe.

    Salam kenal, Tika^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s