Pendidikan Karakter: Solusi Cegah Korupsi Jangka Panjang

untitled-1

Pekanbaru menjadi pusat perayaan dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) tahun ini. Puncak perhelatan tersebut berlangsung Kamis-Jumat, 8-9 Desember 2016 yang berpusat di kompleks kediaman Gubernur Riau dan Gedung Gubernur Provinsi Riau. Dibuka langsung oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo, serta Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, dan jajaran penting lainnya.

Peringatan ini bukan sekadar peringatan, menghelat pesta besar, tanpa ada tujuan. Tentu dengan adanya acara ini diharapkan mampu memberikan pemahaman, menumbuhkan kesadaran, dan inisiatif masyarakat untuk bersama-sama mencegah tindak pidana korupsi.

Korupsi merupakan permasalahan yang hingga saat ini begitu sulit diatasi. Meski berdasarkan survey yang dilakukan Transparansi Internasional (TI), Indonesia di 2015 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap saja belum menjadi kabar menggembirakan. Berada di posisi 88 dari 168 negara atau meningkat 19 peringkat dibaanding 2014 di posisi 107. Meski begitu, tetap saja, jika boleh meminjam kalimat Muhyidin Albarobis dalam bukunya Mendidik Generasi Bangsa, “…lebih dari itu fakta bahwa saat ini dunia mengenal kita dengan prestasi yang amat menjijikkan: korupsi.” Ya, prestasi yang sungguh-sungguh menjijikkan.

Lalu, bagaimana caranya untuk memberantas tikus-tikus berdasi penggerogot uang rakyat ini? Bukannya pemerintah tidak berupaya untuk membersihkan negeri ini dari para koruptor, toh ada namanya badan anti rasuah, KPK, UU Tindak Pidana Korupsi yang dibentuk, serta upaya hukum lainnya. Meskipun tidak atau belum memberikan pengaruh yang signifikan. Terlepas dari tingkah pola pejabat publik di negeri ini yang menyalah gunakan kekuasaan untuk menjajah bangsa sendiri, tapi ada keyakinan dalam hati saya bahwa korupsi bisa diatasi. Meski memakan waktu yang cukup bahkan sangat lama.

“Masyarakat juga berperan sebagai aktor, bukan lagi menjadi objek dalam pemberantasan korupsi,” begitu kutipan dari Ketua KPK, Agus Rahardjo, saat pembukaan peringatan HAKI 2016 Kamis lalu. Masyarakat menjadi aktor penggerak dalam memberantas kasus penyelewengan yang merugikan negara dan rakyat Indonesia. Iya, jika ada kesadaran dalam diri kita bersama bahwa pencegahan dan pemberantasan korupsi ini merupakan tugas dan tanggungjawab bersama, pastilah masih ada harapan untuk Indonesia menjadi bersih, tanpa tikus berdasi.

Pendidikan karakter, merupakan kunci yang saya rasa bisa memberikan harapan untuk bangsa ini merdeka dari korupsi. Pendidikan karakter berdasarkan buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter adalah pendidikan nilai, budi pekerti, moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Benar bahwa pendidikan karakter ini bukanlah solusi baru sebenarnya. Sudah sejak zaman Bung Karno hal ini diwacanakan, namun gagal karena ulah pejabat publik yang serakah. Sama saja dengan pemerintahan Orde Baru. Begitu banyak pelajaran penanaman dan pembangunan karakter dimasukkan dalam kurikulum sekolah, namun jika sikap pemerintahnya tiran dan otoriter, melanggar dan merampas hak rakyat, sudah bisa ditebak hasil akhirnya seperti apa. Korupsi, kolusi dan nepotisme malah makin merajalela hingga sekarang, menjadi semrawut dan makin parah.

Saya mengajak pembaca semua untuk tidak terkungkung dengan defenisi pendidikan karakter hanya untuk instansi pendidikan formal seperti sekolah saja, tapi aplikasikan juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan karakter dari keluarga menjadi kunci utama. Namun dengan tidak menyepelekan faktor eksternal lain yang juga turut membentuk karakter individu dimulai ketika masih anak-anak. Setuju dengan teori konvergensi yang meyakini bahwa setiap individu lahir membawa potensi bawaan masing-masing. Apakah potensi tersebut menjadi baik atau buruk dalam perjalanan kehidupannya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, orang-orang yang ada disekitarnya. Jika orang disekelilingnya memberikan pengalaman positif, maka baiklah ia. Menjadi manusia sempurna yang tidak punya nafsu syahwat seperti binatang, tetapi kebaikan-kebaikan malaikat yang lebih menonjol. Namun berlaku sebaliknya. Karena pengalaman merupakan sumber utama pegetahuan.

Orang tua merupakan sumber keteladanan utama bagi seorang anak manusia. Dalam keluarga nilai-nilai kehidupan pertama kali diajarkan. Sudah sewajibnya orang tua membentuk karakter sang anak. Mengajarkan nilai-nilai baik dalam kehidupan, menunjukkan pola perilaku yang benar, tidak berbohong, jujur, disiplin, serta hal-hal yang sepele lainnya yang menjadi dasar perilaku anak.

Sebaik-baiknya pendidikan yang ditanamkan di lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekitar juga berperan besar. Masyarakat tempat individu bergaul, bersosialisasi, dan mengembangkan potensi yang ada. Ketika orang-orang disekeliling begitu bobrok, bermental miskin, serakah, bahkan ugal-ugalan dalam bertindak, maka akan berdampak dan berpengaruh dalam perilaku seorang individu. Lingkungan negatif ini akan membawa pengaruh yang amat sangat buruk.

Berbeda dengan masyarakat yang sadar bahwa masinng-masing dari kita, saya dan Anda semua, bertanggungjawab menjadi contoh bagi individu lain yang ada di sekitar kita. Kesadaran bahwa diri sendiri mampu memberikan pengaruh bagi individu lain. Oleh sebab itu, wajib bagi kita untuk tidak melakukan hal-hal yang menjadi cikal bakal terciptanya korupsi: berbohong, terlambat, mencuri, egois, dan sebagainya. Meski terdengar sepele, tapi percayalah itu awal dari korupsi.

Bayangkan ketika masyarakat menyadari peran penting dirinya dalam pencegahan tindakan korupsi dalam kehidupan sehari-hari, bisa dipastikan individu-individu yang polos itu tidak akan pernah mengenal kecurangan, pencurian, penyelewengan, pencucian uang, dan istilah “kotor” lainnya.

Ingat, dalam pendidikan karakter bukan materi berupa teori yang diperlukan, melainkan ketauladanan, contoh, panutan yang paling penting. Menjadi tauladan dengan berperilaku sesuai. Apapun latar belakang pendidikan kita, profesi atau pekerjaan, tua-muda, laki-laki perempuan, mari bersama-sama melakukan hal-hal positif karena kita memberi pengaruh terhadap kehidupan orang lain. Pendidikan karakter akan gagal total jika tidak melalui keteladanan. Dengan begitu selain tujuan utama menjadi panutan bagi anak-anak maupun manusia lain yang ada di sekitar kita, secara langsung juga merubah pola perilaku kita menjadi lebih baik secara perlahan. Hanya dengan kesadaran dan rasa tanggungjawab dalam diri sendiri, akan berdampak positif juga bagi orang-orang dalam ligkungan pergaulan kita. Meski bersifat preventif dan baru bisa berdampak luas dalam jangka waktu yang lama, tapi solusi ini lebih baik daripada opsi membasmi semua manusia yang hidup di negeri ini, lalu digantikan dengan manusia baru. Lebih menakutkan!

Terlepas dari sistem hukum dan pemangku kekuasaan negeri ini yang bagai lingkaran setan, dengan segala kebobrokan yang ada sekarang ini. Anggap saja mereka sebagai generasi tua yang rusak, atau meminjam kembali istilah Muhyidin Albarobis dalam buku yang sama, sebagai “produk gagal”. Maka, jangan biarkan kita dan generasi muda lainnya juga sama bobrok dan gagalnya dengan mereka. Generasi tua itu hanya menunggu waktu saja untuk digantikan oleh generasi muda yang kuat karakter positifnya. Generasi yang tidak mengenal istilah korupsi dan jajarannya. Generasi yang juga akan menjaga generasi selanjutnya sehingga kata “korupsi” menjadi asing bahkan tak pernah lagi terdengar setelahnya. Mudah-mudahan. Rasanya ini memang tak semudah memejamkan mata, namun yakinlah dengan semangat dan keyakinan bersama hal itu tak akan mustahil terjadi. Meski terdengar kecil, tapi ingatlah, hal besar tak akan pernah ada tanpa hal kecil yang membesar.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Hari Anti Korupsi Internasional yang diselenggarakan KPK dan Blogger Bertuah Pekanbaru.

logo-kpk-532x600

bertuahlogo-768x363

Advertisements

5 thoughts on “Pendidikan Karakter: Solusi Cegah Korupsi Jangka Panjang

  1. Pendidikan berkarakter teori di sekolah tapi harus diterapkan diluar sekolah. mantap banget ni. semoga kedepannya Indonesia bisa lebih bersih dari yang namanya korupsi. Selamat hari anti korupsi 😀

    1. Yes, betul banget! Apalah artinya teori jika tak tau bahkan tak bisa mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, hihi. Selamat hari anti korupsi juga. Oh iya, terima kasih udah mampir 😀 salam kenal-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s