Bono Jazz Festival 2016

Seminggu kemaren di Pekanbaru ada event keren banget, Bono Jazz Festival. Dari namanya aja kamu pasti udah bisa menebak ini event apaan. Yes, acara musik jazz yang digelar setiap tahun oleh anak-anak muda Pekanbaru yang kreatif dan produktif dalam berkarya. Jujur, ini event sejenis pertama yang aku ikutin dari awal hingga selesai lagi.

Di Bono Jazz Festival tahun kedua ini, ada tiga rangkaian acara. Dua malam pertama ada Jazz Talk yang digelar di Share Point, Pekanbaru. Selama dua malam itu kita-kita ngobrol santai tentang musik jazz, mulai dari sejarah hingga jazz dewasa ini, bareng narasumber yang benar-benar paham kondisi per-musik-an khususnya di Indonesia. Daaaan, aku yang gak mengerti sedikitpun masalah jazz Cuma bisa angguk-angguk dengerin perbincangan malam itu. But, setelahnya aku jadi tahu dikit-dikit laaah haha. Mayanlah, yekan? Daripada enggak sama sekali.

Lanjut Rabu dan Kamis (dua hari berikutnya setelah Jazz Talk) ada kegiatan ‘Trip to Bono’. Nah, namanya juga BONO Jazz Festival, ya, harus ada ke Bono-nya lah. Bono merupakan pariwisata unggulan dari Provinsi Riau yang berada di desa Teluk Meranti, Kab. Pelalawan.

bono18

Jadi memang tujuan ataupun misi dari event ini, selain “memasyarakatkan” musik jazz yang berasal dari luar sana, juga untuk memperkenalkan Bono ke banyak orang. Tidak hanya kepada warga Riau, tapi juga kepada orang luar. Karena rombongan yang berangkat ke Bono bukan hanya kita-kita yang dari Pekanbaru, tapi juga ada dari luar provinsi bahkan luar negeri.

bono1

Bisa dibilang sebagai ajang promosi gitulah. Keindahan alam yang disuguhkan desa Teluk Meranti dengan ombak yang ada di sungai Kampar ini serius luar biasa, jadi patut untuk dikunjungi. Aku aja yang orang Riau asli yang belakang rumah aku juga dilewati sungai Kampar, baru pertama kali juga datang kesana haha.

Di Desa Teluk Meranti, rombongan yang ikut lebih kurang 300-an orang menyaksikan berbagai kegiatan seperti perlombaan Jung Katel, pergelaran musik jazz bersama masyarakat setempat dengan musisi jazz lokal dan internasional, dan yang paling seru adalah ‘berburu’ Bono. Iya, perlu digaris bawahi kalo Bono itu bukan nama sungai, tapi nama ombak yang ada di sungai Kampar tersebut. (Tunggu postingan aku selanjutnya tentang Bono yaa hihi).

bono20
Ini di Pantai Ogis. Cuma pantainya gak keliatan gegara air udah pasang. Katanya sih pasir pantai ini haluuuus banget. Tapi aku gak dapet ngerasain 😦

Untuk bisa menyaksikan Bono dengan atmosfir yang berbeda, kami diajak untuk naik kapal dan berlayar menyusuri hulu sungai Kampar. Di atas kapal ga hanya nikmatin pemandangan sungainya, tapi juga ditemani musik, eh aku lupa siapa nama DJnya haha. Kami singgah sebentar di Pulau Muda untuk makan siang sebelum menyaksikan keindahan Bono. Waktu itulah atmosfir berbeda aku rasain. Serius, aku beneran excited waktu nunggu Bono datang. Wooooooo gak bisa dideskripsikanlah gimana muka-muka kami di atas kapal, yang rata-rata pada belum pernah lihat si Bono. Sampai-sampai kapal kami miring efek berat sebelah karena penumpangnya numpuk di satu sisi kapal demi lihat Bono hahah. Kalo kebalik kan gak lucu juga….

bono3
Aku waktu itu cuma bisa liat Bono dari jauh, jadi kalo di fotoin gak keliatan. Jadilah cuma ombak-ombak kecil diatas yang ada.

Sepulang dari Desa Teluk Meranti, dua malam berturut-turut setelahnya barulah konser musik Jazz di Pekanbaru, tepatnya di Anjungan Seni Idrus Tintin, MTQ, Pekanbaru. Ini rangkaian acara ketiganya sekaligus penutup acara. Musisi yang tampil rata-rata musisi jazz lokal. Eeeits, jangan salah. Meski lokal tapi kualitas internasional, loh. Ada Project Berdua, Blues berdua, Riau Drummer Community, Kayu Balok, AKMR Jazz Project, Riau Guitarist, Yopie and Friend, Geliga. Selain itu ada juga Trio Najib dari Bali, Herdy dari Medan, dan Jart Hassan dari Malaysia dan lainnya.

Fyi, gegara semingguan dengerin musik Jazz, aku jadi suka dan jatuh hati. Apalagi sama saxophone, oh God! Orang yang bisa main saxophone itu kereeen, aaaah. Ayo yang bisa main saxophone diabsen dulu mana yang masih jomblo *eeeeh

Pokoknya aku angkat dua jempol untuk mas-mas main saxophone, eh, sama panitia acara Bono Jazz Festival maksudnya. Terutama sama bang Ihsan dan kawan-kawan ‘gila’nya yang udah berjuang buat acara ini. Katanya sih panitia murni itu cuma tiga orang loh, saluuuuuut!!! Semoga Bono Jazz Festival tahun depan jauh lebih spektakuler dari sebelumnya. Dan yang paling penting semoga tahun depan seluruh rangkaian acaranya digelar di Desa Teluk Meranti. Biar siang malam bisa liat Bono hihi

Makasih Bang Ihsan dan panitia yang udah ajak aku dan teman-teman KongkowNulis untuk ikut berpartisipasi dalam event ini. Semoga tahun 2017 kuota untuk KongkowNulis ke Bono dikasih tambah ya hahahaha

Tahun depan ada yang mau ikutan? 😀

Advertisements

2 thoughts on “Bono Jazz Festival 2016

    1. Hihi iyah, ini baru tahun kedua sih memang. Dan konsepnya emang gabungin trip dan musik jazz. Semoga tahun2 berikutnya lebih gede dan heboh, biar orang dr luar riau juga dateng kan. Yok ikut tahun depan mas hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s