Dia Beda!

Setelah Euro 2016 berakhir sekitar minggu kedua bulan Juli lalu, hingga akhir Agustus mendatang, akhir pekan menjadi sangat suram. Bahkan lebih suram jika tanpa pacar.

Sumpah, aku lebih baik malam minggu sambil nonton bareng pertandingan sepakbola di mall atau café daripada harus menemani Sophie atau Nilam dinner di resto Jepang yang berakhir di apartemenku atau mereka. Tapi sejak dua bulan yang lalu aku memutuskan mereka karena Sophie minta aku nikahi, sedangkan Nilam pindah tugas ke Surabaya. Memangnnya aku mau secepat itu buat komitmen sama dia? Atau aku bakal jadi cowok bodoh yang setiap hari cuma menjalin hubungan via ponsel saja? Haha, mimpi!

Aku mengecek beberapa nama di phone book iphone-ku. Siapa tau masih ada yang bisa aku ajak keluar malam ini. Mulai dari Anggie, Danis, hingga Merry, ah bosan. Mereka tipikal cewek metropolitan yang banyak omong, pamer, aku capek mesti dengerin ocehan cewek seperti mereka.

Tapi, masa aku cuma tidur di apartemen malam minggu gini, batinku.

Retno. Tiba-tiba mataku berhenti pada satu nama yang masih baru bagiku. Iya, cewek yang kemaren sore ketemu di café milik Roy, sepupuku. Memori otakku seketika langsung memutar detail bagaimana aku memperhatikan cewek itu berhari-hari, sudah kayak detektif aja.

Matanya, rambut pendek sebahu yang lurus natural, bibir tipisnya, lesung pipinya. Shit, dia beda banget. cantik tapi gak pasaran. Yang paling aku suka adalah ketika aku mendatangi dan meminta nomornya, aku masih ingat jelas bagaimana muka gugupnya, begitu polos. Kayaknya dia jarang berurusan dengan pria, simpulku. Sungguh beda!

Aku tersenyum seketika mengingat semua rekaman kejadian itu. Masih jam setengah delapan, dengan penuh percaya diri, aku menelponnya.

“Assalamualaikum,” ucapnya mengawali pembicaraan. Ah, suaranya begitu lembut namun tegas tanpa kesan dibuat-buat seperti kebanyakan cewek. Tiba-tiba aku menjadi agak gugup, sial.

“Waalaikumsalam, Retno, kan?” Bodoh, jelas-jelas itu nomor dia, ya pasti dialah. Pertanyaan bodoh. Yakali yang angkat bukan dia, bagian lain dirikku membenarkan perrtanyaanku barusan.

“Iya, ehm, ada apa yah?”

Baru kali ini urusan menelepon cewek menjadi begitu rumit buatku. Aku sejenak terdiam, memikirkan kata-kata yang pas untuk aku ucapkan agar tak terdengar bodoh.

“Ehm, gak ada yang penting, sih. Ehm, tadi…” aku menggaruk kepala, takut-takut salah bicara. “tadi aku… oh tadi aku ke café yang kemaren, tapi aku gak ngeliat kamu.” Semoga ini kedengaran gak aneh sama sekali.

Dia ketawa kecil di ujung sana. “Hehe, iya, aku tiba-tiba harus ke luar kota tadi pagi-pagi banget.”

“Ooh, gitu. Yaudah deh kalo gitu, maaf yah udah ganggu kamu.” Jawabku agak sedikit kecewa.

“Iya, gak papa kok. Ehm, masih ada yang mau dibicarain lagi?” Tanyanya.

“Eh.. “

“Iya?”

“Kamu kapan balik ke Jakarta?”

“Besok sore,”

“Aku jemput ke bandara ya?”

Sepersekian detik, tak ada jawaban dari seberang telepon. Aku menarik napas, agak sedikit kikuk, takut dia keberatan atau malah dia sudah punya pacar dan si pacar yang bakal jemput dia.

“Oke… See you.” jawaban yang melegakan banget. Dia sudah menutup telpon sebelum aku sempat menjawab “See you..

Ada kelegaan dalam hati, jika masih bisa aku ingat, belum pernah aku sebahagia ini. Sejak pertama melihat dia, seperti ada sesuatu yang begitu menarik bagiku dari sosoknya. Sehingga dengan berani aku meminta nomornya.

***

 

Image: www.webmd.com

Advertisements

2 thoughts on “Dia Beda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s