Semanis Yuanyang

hghg
foto from: littleturkishgirl.blogspot.com 

 

Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, aku kembali mendatangi coffee shop yang baru buka 2 hari yang lalu. Ntah kenapa aku menjadi suka berlama-lama menghabiskan waktu disini. Desainnya yang klasik dan aroma kopi yang semerbak, setidaknya cukup menenangkan pikiranku dari kusutnya pekerjaan hari ini.

Aroma wangi Yuanyang yang aku pesan menyeruak memenuhi rongga hidungku. Aku mulai menyesap perpaduan kopi dan teh dalam cangkir putih itu. Sejak tiga hari yang lalu, coffee shop ini membuatku jatuh cinta dengan Yuanyang. Percayalah, rasanya sungguh luar biasa. Diluar hujan masih setia menemani sore, menemani matahari ke peraduan, menemani manusia pejuang pulang ke rumah.

Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Setidaknya Yuanyang ini sudah memberiku sedikit tenaga, membuatku lebih segar. Aku membiarkan mata ini berkeliaran menyapu setiap sudut ruangan yang tak terlalu besar ini. Tidak ada meja yang kosong kali ini. Mungkin karena diluar hujan, batinku.

Tiba-tiba mataku berhenti pada sosok lelaki itu (lagi). Masih di meja yang sama. Laki-laki yang mengenakan kemeja polos biru dengan lengan yang digulung keatas. Dia mencoba mengalihkan pandangannya ketika mata kami dua detik yang lalu saling bersitatap. Jantungku mulai berdegup kencang.

Segera aku alihkan pandanganku kedepan. Aku berusaha menghilangkan kegugupan ini dengan menyeruput Yuanyang-ku.  Tapi mataku lancang untuk kembali menoleh kearahnya. Apakah dia memang memperhatikanku atau tadi hanya kebetulan saja?Benar saja, aku kembali memergoki dia memperhatikanku. Tatapannya yang tajam namun hangat, membuat wajahku memerah seperti remaja yang baru puber saja.

Dan sialnya, dia tak merasa bersalah sedikitpun karena ketahuan memperhatikanku. Apakah kamu akan tetap memperhatikan seseorang di depanmu ketika disaat yang sama orang itu menoleh kearahmu? Hanya orang beranilah yang melakukan itu.

Jantungku semakin berdegup kencang. Apa yang dia inginkan? Aku sebenarnya sudah sadar dia duduk disitu dan (selalu) memperhatikanku sejak hari pertama aku kesini –dua hari lalu. Dan aku juga diam-diam sering memperhatikannya. Tapi sungguh, aku kesini karena ingin menenangkan diri dan menikmati secangkir Yuanyang saja, tak lebih.

Tingkah konyolku ini membuatku tak sadar hujan di luar sudah reda. Hanya genangan air dan rintik-rintik kecil yang tersisa. Para pejalan dan pengendara sepeda motor sudah dari tadi lalu-lalang di luar. Ah, sebaiknya aku pulang saja. Aku menyeruput Yuanyang-ku untuk terakhir kalinya.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat seseorang berjalan kearahku. Omaigat, jantungku serasa mau melompat keluar. Apa dia bakal kesini? Aku memperbaiki posisi dudukku, juga merapikan rambutku. Aku (dengan bodoh) juga mengurungkan niatku untuk pulang. Apa yang aku lakukan? kutukku dalam hati.

Benar saja, sekarang laki-laki itu sudah duduk didepanku dan tersenyum manis. Duhai, baru kali ini aku melihat senyumnya dan itu manis sekali. Perpaduan tatapan dan senyuman itu perfect banget, teriakku dalam hati. Akupun balas tersenyum dengan dahi yang berkerut. Masih tak mengerti apa yang dia inginkan.

“Hai…” Dia menyapaku dengan senyum yang lebih mengembang.

“Oh, hai juga..” Aku berusaha senormal mungkin, tapi tetap saja dengan muka yang penuh tanya.

Dia menyodorkan iphone-nya kehadapanku. Keningku makin berkerut. Dia mau ngasih aku hadiah? “Oh, maaf, aku mungkin udah buat kamu ketakutan dan bingung. Kamu mau gak nulis nomermu disitu?” sambil menunjuk iphone yang ada di hadapanku.

“Oh,” dengan tolol aku hanya menjawab ‘oh’ dan mengangguk seperti orang bodoh. Kenapa aku payah jika berurusan dengan lelaki?! Aku langsung menyambar iphone itu dan menuliskan nomorku disana. Entah kenapa pula aku langsung bersedia.

Aku mengembalikannya setelah menyimpan nomorku. “Retno” seruku. Bukan bermaksud untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, tapi tadi itu hanya agar dia mudah menemukan namaku di phone book-nya.

Dia tersenyum, meraih ponselnya dari tanganku. “Nama yang bagus..”

Tak lamaa, iphone-ku bordering. Aku memperhatikan layar ponsel yang juga berada di depanku. Unknown number. “Oh itu nomerku.” katanya saat melihat aku  hendak menjawab panggilan itu.

Aku tersenyum, “Ooh..”

“Satrio” ucapnya. Kali ini dia sudah  berdiri, “Terima kasih ya” dan dia menundukkan kepala sambil tersenyum sebelum dia benar-benar pergi. Terlihat dia tersenyum ramah ke beberapa pegawai café dan barista yang sibuk meracik kopi disudut sana sebelum keluar cafe. Aku masih terdiam dan menatap punggungnya yang semakin menjauh. Dia masuk ke mobil Harrier hitam miliknya yang persis terparkir di sebelah mobilku. Semua kejadian ini begitu cepat, hingga membuatku tak bisa berpikir apa-apa. Yang aku tahu sekarang adalah, jantungku terus berdegup kencang dan aku amat sangat bahagia. Apa aku jatuh cinta?

 

 

Featured image: https://majalah.ottencoffee.co.id/

Advertisements

4 thoughts on “Semanis Yuanyang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s