Notes from Tere Liye

 

IMG_3093

Di postingan kali ini, aku ingin bagi informasi dari Om Darwis atau yang lebih dikenal dengan Tere Liye. Ini lateeeeeeeeee post banget. Udah lama aku tulis sebenernya tapi baru sekarang bisa aku upload hihi

Siapa sih yang gak kenal sama penulis dengan novel-novel yang selalu jadi National Best-Seller ini? Sebut saja Bidadari-Bidadari Surga, Daun yang Jatuh tak Pernah membenci Angin, Negeri di ujung Tanduk, Negeri Para Bedebah, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Sang Penandai, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Pulang, Bumi, Bulan, Hujan, dan masih banyak lagi.

You know what, Tere Liye was coming to town!

Bulan Maret lalu, kota kami kedatangan Om Darwis dalam kegiatan bedah buku novel Hujan. Aku gak mau ketinggalan dong pasti hahah kesempatan ketemu penulis idola. Dan unpredictable banget. Om Darwis itu ramah, suka becanda, tapi sosok yang tergambar ketika baca novel dia juga ada kok, sosok yang kalo nyindir kena banget, kalo komen sesuatu tepat sasaran, itu juga ada. Bagi fans nya Bang Darwis pasti taulah what I mean :))

Nah, dalam bedah buku waktu itu, ada beberapa informasi yang dibagi om Tere tentang bagaimana cara dia menulis sebuah naskah. Cekidot!

  • Menemukan gagasan yg akan disampaikan. Apa poinnya yg akan disampaikan ke pembaca. Temukan “So what” nya. Apa pesan yang mau disampaikan dari certa itu
  • Menemukan background cerita. Setiap cerita butuh panggung. Apakah panggungnya di kapal, pulau Sumatera, dan sebagainya. Latar akan menjadi pendukung yang menguatkan cerita sehingga apa yang hendak diungkapkan sampai ke pembaca. Latar akan memberikan gambara jelas ke Pembaca sehingga cerita yang ditulis tidak terlihat terlalu fiktif.
  • Menentukan karakter dan plot. Tentukan sedetail mungkin. Siapa yang menjadi tokoh utama. Kepada siapa pesan itu ‘dititipkan’. Tentukan nama apa yang cocok untuk karakter tersebut. Setelah menemukan karakter, rangkailah plot. Plot adalah cara menyampaikan cerita agar pembaca tidak merasa digurui. Mulai ditulis dari awal hingga akhir.
  • Yang terakhir, jangan bingung bagaimana menyelesaikan cerita. Jika merasa sudah cukup, maka berhentilah. Tak ada standar dan aturan ending yang bagus itu seperti apa. Maka ketika kamu merasa pesannya sudah tersampaikan, itulah endingnya.

Moment yang paling buat aku senang adalah ketika bisa nanya langsung ke Om Tere tentang sesuatu yang ada dikepalaku ketika selesai membaca novel Hujan. Hahaha daan itu langsung sama dia waktu minta tanda tangan. Dan Om Tere ketawa sambil bilang, “Haha, kalo gitu nanti cerita panjang dan bukunya tebal.”

IMG_3081

Oh iya, btw gimana? Udah tau kan tips dari Tere Liye? Segera tulis ceritamu, tunggu apa lagi??? 😄

Advertisements

4 thoughts on “Notes from Tere Liye

  1. tere liye pernah bilang di sebuah seminar kepenulisan kalau selama ini dia berhasil mendapatkan ide cerita dan itu mengalir deras, sederhana, tapi kesannya istimewa karena selama kecil dia selalu didongengi ayahnya sebelum tidur. Berarti faktor habit juga ngaruh ya terhadap kemampuan menulis, bukan pada tahap teknis. Tapi tahap menggali ide. imho 🙂

    1. Oh ya mbak? 😀
      Iya sih mbak, kemaren beliau cuma bahas lebih ke teknik kepenulisan aja. Semoga dibedah buku selanjutnya bisa dapat ilmu baru yang lain hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s