Perkenalkan Temanku

best_friends_forever-wallpaper-2560x1600

pict: theodysseyonline.com

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Hari pertama aku resmi menjadi remaja. Siswa dengan baju putih dan rok dongker. Jujur, aku amat sangat penasaran dengan dunia yang akan aku masuki. Menurutku menjadi siswa SMP itu menyenangkan! Setidaknya itulah kesimpulan sementara setelah aku perhatikan tetangga-tetanggaku yang lebih dulu mencicipi bangku SMP.

Setelah sekitar satu jam berbaris di lapangan yang luasnya kira-kira seperempat lapangan bola ini, kami dipersilakan untuk bubar dan menuju kelas masing-masing yang sudah ditentukan. Aku menjadi anggota di kelas A. Misi awalku adalah mencari teman sebangku. Meski satu dua ada yang sudah aku kenal, aku memilih untuk mencari sosok baru. Sambil terus melangkah menuju kelas yang ada di depan ruang guru, aku menyisir satu persatu siswa yang bisa aku ajak berkenalan. Dan, yeah, I just found her!

Hey!” Sapaku. Aku mengangkat rokku agar bisa melangkah lebih cepat.

Dia berhenti dan menoleh, “Iya?” Aku segera menodongkan tanganku. “Tika.”

Nana” sambil tersenyum dia menjabat tanganku.

Kelas A, kan?

Iya

Udah punya teman sebangku? Sama aku aja, yok!

“Oke”

Sejak hari itu, aku mulai mengenal Nana lebih dekat. Mulai dari rumahnya dimana, dia dari mana, berangkat sekolah sama siapa, dan hal-hal lainnya. Dia baru pindah dari Batam ternyata. Jadi aku berusaha untuk membantunya mulai beradaptasi dengan lingkungan dan kebiasaan disini, di tempat kami berada sekarang.

Dia anak yang pintar dan aktif. Karena besar di kota, membuat pengetahuan dan analisanya lebih dibanding kami yang tinggal disini.Bahkan aku sampai berfikir dialah kandidat peraih posisi 1 di kelas ini.

Seiring berjalan waktu, Nana ternyata menyebalkan. Dia akan marah jika ada yang buat dia kesal. Atau hanya sekedar melihat hal-hal yang tidak disukainya. Omaigat, kenapa mesti ketemu cewek kayak gini??! Meski dia tidak pernah marah sama aku, tapi demi melihat dia mengata-ngatai teman satu kelas, sumpah ini cewek jutek bangeeeeettttttt. Tapi, dia sebenernya baik kok. Dia sama aku baik kok. Dia hanya akan berkata apapun yang dia rasa honestly. Aku suka berteman sama dia, hanya saja dia kayaknya gak mau berteman dekat sama orang. Jadilah kami hanya sekedar teman sebangku aja, gak lebih.

Kami berada di kelas yang sama sampai lulus. Hanya beberapa bulan saja aku dan Nana menjadi teman sebangku. Setelahnya berkali-kali kami ganti-ganti ‘tetangga’. Hingga lulus, aku dan Nana hanyalah sebagai teman sekelas yang akan terus berganti seiring waktu. Silih berganti datang dan pergi, seperti teman-teman lainnya.

Takdir berkata lain. Masuk SMA yang hanya dipisahkan oleh kantor kecamatan, aku kembali bertemu Nana. Oke, gak cuma dia sih. Ada teman-teman satu SMP lainnya yang aku temuin. Banyak malah. Berbeda kelas di satu tahun pertama, aku dan Nana kembali sekelas dua tahun berikutnya, kelas XI dan XII. Aku dan Nana kembali duduk sebangku persis di pojok belakang kelas. Sekarang Nana amat sangat berubah. Berada satu tahun di SMA bisa merubahnya 180. Dia yang dulu suka marah dan judes luar biasa, sekarang, meski masih pemarah, dia sudah bisa mengontrol emosinya. Dia bersikap lebih dewasa. Mencoba setenang mungkin menghadapi situasi yang tidak dia sukai. Dia sudah mulai bijaksana, dan, berbicara seperti orang dewasa, haha

Dia, masih baik hingga sekarang. Sekarang aku dan Nana bisa lebih terbuka, tidak sekaku saat masa SMP dulu. Aku bercerita semua hal kepadanya, dan diapun begitu. Bercerita masalah pelajaran, buku (re: novel), mimpi, dan cinta. Dia menjadi tempat curhatku, dan sebaliknya (aku merasa begitu). Bukan berarti dalam persahabatan kami tidak ada masalah. What? I said “persahabatan”? Well, sekarang aku menganggapnya seorang sahabat. Jika kami saling diam, ada sedikit masalah, itu pasti aku penyebabnya. At first, I told you what, dia sangat baik. Aku saja yang tak tahu diri selalu membuat masalah. Tapi seingatku, selalu saja dia yang berusaha berbicara padaku. I tell you once more, dia baik.

Waktu SMA berlalu begitu cepat. Tuhan mempertemuakn kami lagi. Meski bukan berada di jurursan yang sama, aku dan Nana di satu fakultas di universitas yang sama pula. Bahkan aku dan Nana sekarang satu kamar kosan. Sudah dua tahun kuliah, cewek berkacamata yang aku sapa 8 tahun yang lalu menjadi tempat aku menyimpan semua rahasiaku. Dia yang awalnya aku pikir amat sangat menjengkelkan dengan kejudesan dan marahnya yang super duper dahsyat, ternyata seiring berjalan waktu dia yang sekarang jauh berbeda.

Nana, terima kasih sudah menjadi teman terbaik dalam hidupku. Terima kasih telah memilih aku menjadi tempatmu bercerita. Terima kasih telah melukiskan warna dalam buku kehidupanku. Maaf jika selama ini tingkah kekanak-kanakanku membuatmu kesal jengkel, tapi tak sekalipun kau marah.

Hari ini (16/4) Aku berdoa agar satu persatu yang ada di buku impianmu, bisa kau ceklis semua. Semoga hari ini menjadi titik dimana janji masa depan yang cerah segera kau penuhi. Jadilah Nana yang aku kenal. Nana yang apa adanya. Aku bahagia bisa mengenalmu, Jen (panggilan yang full of history lah). Pindah dari Batam kesini adalah bagian dari takdirmu untuk menjadi sahabat terbaikku–

Selamat ulang tahun…. Happy birthday, Jene.

 

Featured image: www.clipartpanda.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s