Ketika Produk Luar Menjadi Kebanggaan

Tadi sore sebuah notification path masuk ke handphoneku. Seorang teman baru saja “check-in” disalah satu gerai makanan cepat saji yang baru buka bulan lalu. Bukan pertama kalinya, bahkan rata-rata semua teman-teman yang menggunakan sosial media sering mengabarkan pada semua orang kalau dia sedang berada di gerai makanan produk luar negeri tersebut. Entah kenapa aku selalu merasa miris dan entahlah. Yang jelas bukan perasaan iri😁 seakan semua orang bagai berlomba-lomba untuk mengunjungi tempat makan yang berbau luar, biar gaya terlihat kebarat-baratan. Padahal, saya yakin kebanyakan dari kita mengetahui bahwa makanan fast food itu tidaklah makanan yang sehat. Sama saja kita memasukkan sampah ke dalam perut.
Saya jadi teringat dengan tulisan yang ditulis oleh Yusran Darmawan dalam bukunya “Kopi Sumatera di Indonesia”. Disitu ia bercerita bahwa di Amerika fast food hanya di konsumsi oleh mereka kalangan bawah. Sedangkan di Indonesia, tempat makan fast food dikonsumsi oleh mereka yang kaya. Seolah-olah makan di restoran cepat saji menjadi indikator untuk menentukan mereka kaum berada atau bukan. Artinya, masyarakat kita kebanyakan merasa bangga membeli “sampah” dengan harga yang mahal.
Aku pernah sekali mengunjungi restoran cepat dengan logo huruf M berwarna kuning ini pasca buka sebelum natal bulan lalu. Bukan karena keinginan untuk makan disana, tapi karena rapat sesuai kesepakatan diadakan disana. Bukan pembelaan yah😁 yang aku saksikan adalah antrean panjang manusia. Awalnya sampe sana aku fikir “ini pasar atau tempat makan? Rame amat”. Ini serius! Ramenya sampe keluar-keluar. Udah kayak orang antre sembako.
Sama juga halnya ketika belum lama ini gerai kopi Starbucks buka di Pekanbaru. Beuh, langsung rame! Padahal harganya bikin aku menangis😂 Fenomena ini menandakan bahwa begitu banyak masyarakat Indonesia yang begitu tergila-gila dengan produk luar negeri. Dalam tulisannya, bang Yusran yang merupakan Kompasianer of The Year 2013, juga menyebutkan bahwa ternyata kopi yang digunakan oleh Starbucks adalah kopi Indonesia. Kopi Indonesia begitu dipuja di negeri Paman Sam itu. Namun, tak banyak orang kita yang tahu. Masyarakat kita mungkin memasuki gerai kopi tersebut hanya untuk gengsi. Produk asli dari negeri kita sendiri kita bayar dengan harga yang sangat mahal. Sungguh miris. Padahal mungkin saja kopi kita dibeli dengan harga yang mungkin saja terbilang murah.

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Produk Luar Menjadi Kebanggaan

  1. banyak produk dr indonesia yg dijual murah keluar negeri, dikasih merek luar negeri, dijual lg di indonesia dgn harga mahal. dan org yg beli bangga banget pake merek luar negeri. pdahal mah ‘dibodohi’ hihi. jujur, sy jg pernah beli ayam goreng dan pizza. tp jaraaaaang banget. mahal, bisa bangkrut.

    1. bener, Mbak. pernah Ayah temen yang pulang dari Mekah bilang kalo peci haji yang paling bagus itu yah buatan Indonesia (lupa dari pulau mana) dan dijualnya cuma di sana. Miris.
      hahah, mbak gak lupa ‘Check-in’ di sosmed kan gak kalo lagi di PH? 😀

      1. haha jaman itu baru fb yg sdg hits. males ah apdet status lg makan di ph. menunya aja pilih yg paling murah hahaha. lagian ga mesti setahun sekali.

      2. perasaan udah balas komen. kok ga kelihatan ya.
        jaman itu baru fb yg hits. males lah apdet status lg di ph. menu yg dipilih jg yg paling murah. lagian ga mesti setahun sekali kesana hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s