Nguji Nyali Penuh Makna

Kamis, 14 Januari 2016

Ini sebenernya late post banget. Tapi gak ada salahnya dibaca kan?

Setelah sekian lama membuat rencana, akhirnya kami berangkat liburan alam yang tidak terlalu jauh dari Pekanbaru. Yep, kami pergi ke Bukit Naang. Setelah otak dibuat kriting karena UAS, serta mata yang sudah bengkak lengkap dengan lukisan hitam melingkar efek begadang menyelesaikan tugas-tugas, akhirnya perkuliahan semester tiga berakhir. Yeayyyyy! Dalam rangka perayaan itulah, kami memutuskan untuk pergi meninggalkan hiruk pikuk keramaian Kota Panam, dan menuju ke Agro wisata Buki Naang.

Kami hanya berlima. Girls only. No boys no cry lah haha. Karena memang hampir semua dari kami single berkualitas alias bukan Jones 😀 jadi liburan kami saat itu edisi wanita deh.

Tujuan kami satu-satunya kesana hanyalah ingin menikmati sensasi outbondnya yang sudah terkenal ituloh. Yang (menurut aku) tinggi banget. Itu sungguh menguji adrenalin saya saudara-saudara. Jujur saja, aku gak pernah ikut outbond sebelumnya, takut. Tapi karena aku gamau mati penasaran, keinginan itupun harus dituntaskan. Berbekal karcis seharga 75 ribu rupiah, kami siap menuju arena uji nyali, dimana ada rumah kosong yang sudah seratus tahun tak dihuni. Lah, bukan bukan. Uji nyalinya bukan ketemu setan yah.

Serius, awalnya aku excited banget. Gak ada rasa takut dan deg-degan sama sekali. Sok berani gitu deh. Malah kami sempat ngejekin orang. Ceritanya tuh ada cewek yang dia lagi naik (ah aku gatau nama rintangannya apa) tinggi banget. Terus dia sambil teriak “aduuuh bang, dedek gak kuat…. Takut bang… tolong dedek  bang…..OMG, itu buat kami yang dibawah ketawa sambil pegang perut. Apa-apaan coba teriakannya kayak gitu.

“Selow aja, Mbak!” seru temanku setengah berteriak disusul ketawanya yang mengejek. Iya emang, kalo kalian denger pasti agak ‘nganu’ gitu. Tapi yah namanya juga orang takut.

Setelah memasang segala bentuk tali-talian sebagai pengaman, kami di briefing dulu. Gimana cara main yang benar dan sederet informasi penting lainnya. Ok, I’m ready!

Dimulai dari naik anak tangga untuk selanjutnya menuju rumah pohon. Melewati jaring yang kalo aku pikir sekarang tuh tergolong sangat aman, tapi waktu itu buat aku udah deg-degan setengah mati. Bibir pucat, muka dan pungung bercucuran keringat, dan tentu baju udah basah. Duh, cemen banget kan gue? Ok, jangan bully hehe

Lanjut dengan flying fox yang pendek, untuk menuju rintangan meniti sebuah tali. Dan selanjutnya adalah, jeng jeng jeng…. Rintangan yang paling susah. Ituloh yang kayak papan bentuk persegi panjang disusun lurus satu-satu yang dihubungkan dengan tali. Dan ini berada di ketinggian lebih kurang 20 meter. Busetttt. salah langkah, jatoh, lumayan juga ini tulang copot semua.

Satu dua langkah, aku masih selow yang biasa aja. Dan setelahnya rasa takut mulai menyergap. Rintangannya makin goyang. Selain karena angin, juga karena dua temanku di depan dan satu instruktur juga sedang berada persis di tengah.

Saat aku lihat ke bawah, saat itulah jantung ini berpacu. Berdegup kencang seolah aku sendiri bisa mendengar bunyi dentumannya. Keringat dingin bercucuran. Muka pucat. Aku berhenti sejenak menenangkan pikiran dan mengatur napas. Berusaha mengendalikan rasa takut. Sial, aku malah makin tak terkontrol. Aku masih mematung, membiarkan dua orang temanku di depan untuk sampai di pos ujung. Pikirku agar tidak terlalu goyang.

“Ayo maju! Gapapa maju aja” instruktur berkata di depan.

Aku kembali hanya diam. Sambil mulut komat kamit membaca apa saja ayat suci yang aku hafal. Sementara ternyata temanku dibelakang sudah mengikutiku. Berharap enggak goyang setelah dua yang didepan sampai, tapi ternyata yang dibelakang masih ada. Pfffffft…. Duuuh, sungguh aku gak sanggupppppp!

“Bang, yang ini bisa di skip aja gak rintangannya?” seruku setengah berteriak kepada instruktur yang ada persis di depanku. Dengan suara terbata-bata, aku ingin menyerah. Mumpung aku belum terlalu jauh melewati rintangan ini. Jadi kalo bisa di skip kan tinggal putar badan balik kanan aja.

Instruktur itu hanya ketawa sambil menggeleng. “Ayo, maju aja pelan-pelan.” Ok, ini aku harus terus maju sampe ujung. Baiklaaaah!

“Baru pertama kali naik ini, malah milih yang tingkatnya udah advance.” Kutukku dalam hati. Baiklah, mau gak mau aku harus menuntaskan misi ini dengan sempurna. Satu dua tiga, aku mulai melangkah. Disusul teriakan-teriakan yang tak enak didengar telinga. Pekikan-pekikan yang buat orang-orang dibawah berkata “itu apaan sih, lebay banget.” Setidaknya begitu yang aku rasa saat aku masih berada di bawah sebelumnya. Diantara semua pikiran-pikiran aneh yang ada di benakku, terselip satu rasa berdosa dan bersalah sama cewek yang tadinya kami ejek.

Akhirnya, setelah berjua\ang cukup lama (mungkin setengah jam lebihlah hanya untuk satu rintangan itu saja) aku sampai di pos. Rasa syukur langsung terucap, “Alhamdulillah…” aku langsung terduduk. Kaki ini bergetar, badan ini sempoyongan, tangan sudah kaku karena dari tadi terus menggenggam erat tangannya, eh maap salah, menggenggam tali maksudnya hihi

Untuk rintangan setelahnya tidak ada yang terlalu berarti. Karena udah terlatih sama rintangan yang luar biasa sebelumnya, jadi jaring-jaring, terowongan dari kayu, flying fox yang tinggi sekalipun, it means nothing lah bagiku, aeaaaaakkkk

Setelah kembali menginjak tanah. Setelah semua rintangan terlewati dengan sukses ada perasaan bahagia, senang, dan sejenisnya yang tak bisa untuk diungkapkan. Ada semacam kepuasaan dan kebanggaan akan diri ini karena sudah mampu menaklukkan itu semua. Agak lebay sih, tapi bagi aku yang pemula banget ini sungguh berasa luar biasa.

“Luar biasa banget, gaes. Serru! Aku mungkin gak akan ngerasain keseruan ini andai di rintangan tadi aku nyerah. Ternyata itu semua terbayar tuntas.” Ucapku setelah menarik napas panjang.

IMG_2058
Ini muka-muka bahagia setelah bergelantungan di pohon 😀

Sama seperti kehidupan. Masalah demi masalah datang untuk dijalani bukan untuk dihindari. Itulah ujian bagi kita. Dimana ujian-ujian itu menjadi indikator seseorang untuk bisa naik kelas hidup ketahap selanjutnya.

So, Liburan kali ini tak hanya sekedar teriak-teriak gak jelas tanpa makna. Tentu selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Karena hikmah tak hanya bergandengan dengan musibah, berita duka atau peritiwa yang tak mengenakkan lainnya. Tapi, Hikmah dan pengajaran ada dimana-mana bagi mereka yang berfikir. []

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s