There Is Nothing Permanent Except Change 

Gak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, bersambung minggu. Berganti bulan, hingga tanpa terasa tahunpun bergulir. Tak sempat menunggu, apalagi di-pause-kan hanya untuk menunggu manusia yang tak bisa menghargai waktu. Saya ingat ketika TK, waktu begitu banyak dihabiskan hanya untuk bermain. Tak kenal waktu. Siang malam. Terik hujan. Tak peduli. Yang saya tahu hanya bermain. Bertemu teman-teman dan sibuk memikirkan permainan apa yang akan dimainkan. Topiknya yah seputar isu permainan, haha.

Masa SD juga tak jauh berbeda. Masih sebelas dua belas. Perbincangannya masih menyoal permainan. Bukan permainan get rich, ninja fruit, onet, maupun criminal case. Tapi yang lebih jadul. Main kelereg, petak umpet, bola kasti, dan yang jadi primadona buat saya adalah main masak-masakan. Belakon ala chef ternama. Hahaha.

Masuk SMP, sedikit semi sedikit waktu tingkah laku mulai berubah. Gak dibuat-buat sih. Memang natural gitu. Bukannya sok memasuki masa remaja ya, tapi karena memang ‘mungkin’ lebih sibuk dari masa sebelumnya. Pelajarannya pun sudah banyak dan susah. Ditambah lagi waktu SMP saya baru pulang jam 4 sore, jadi mana ada waktu untuk bermain. Gak sempat banget. Nah, yang paling bikin beda itu topik pembicaraannya. Jaman SMP resmi sudah mulai membicarakan soalan ‘ehem-ehem’ hahah , iya, COWOK! ☺️ Dimana saat itu mata sudah mulai jelalatan mencari mangsa, yah mangsanya coganlah alias cowo ganteng huahaha

SMA kayaknya leebih asik. Why? Iya, ini tuh diibaratkan fase remaja tersenior. Kalo udah senior kan punya wewenang dan udah dapat izin buat ngelakuin sesuka hati, apa aja! Eeeitts, bukan yang macem-macem yah. Maksudnya yah pergi ngaji, ikut kegiatan remaja masjid, ikut wirid pengajian. Hahahah gak. Bukan itu maksud saya saat ini yeh.

Mungkin waktu SMP teman-teman saya banyak yang backstreet karena gak diijinin pacaran, siapa juga yang bakal kasih izin sama anak yang masih ingusan gitu. Masih bocah. Belum tau mana yang baik. Elap ingus aja masih belum becus, udah mau pacaran pula. Hahah sok nasehatin padahal…. Oke, jangan bongkar aib sendiri.

Kalo masa SMA banyak teman saya yang udah mulai terang-terangan pacaran sama orang tuanya. Dan itu dikarenakan orang tua mereka sudah ngasih lampu hijau, sih. Jadi saya cuma bisa gigit jari liat itu semua. Kalimat barusan saya gak serius. Sumpah!

Pokoknya, SMA itu topik pembicaraannya yah tentang pacar-pacaran gitu. “Pacar gue ini loh… Pacar gue itu loh…” Tak sedikit juga yang terbang sambil kayang karena pedekate atau cuma sekedar disapa cowo incaran. Seru!

Nah, masuk masa-masa jadi anak kuliahan ngomongin pacaran udah jadi hal yang tabu. Udah biasa, gak penuh sensasi dan berapi-api lagi. Gimana enggak coba? Memasuki dunia jadi anak kuliahan yang udah terbebas dari seragam membuat saya dan milyaran mahasiswa lainnya merasa sekaligus memasuki tahap dewasa. Daaaan, yang paling terasa berubah dan kadang buat saya geli sendiri itu adalah topik pembicaraannya. Bukan ngomongin pacaran lagi, tapi juga ikutan naik tingkat, yap, ngomongin masalah NIKAH! “Besok gue mau nikah sama ‘lelaki’ (panggilannya pun berganti, bukan ‘cowok’ lagi ahahah) yang kayak gini, gitu…” Atau cuma sekedar bersuara “itu calon suami idaman banget” aaah dan masih banyak lagi perbincangan yang berbau NIKAH. Jujur, saya kadang masih agak kaku dan agak canggung sekaligus berasa aneh dengan isu perbincangan yang satu ini. Karena gak tau kenapa, saya merasa masih terlalu dini untuk menjadikan ini sebagai topik untuk dibicarakan.

“Tapi kan memang sudah seharusnya kita mempersiapkan diri, kita gatau jodoh itu kapan datangnya…”

“Ah, masih lama. Kalo jodohnya datang sekarang, ya tolak aja kalo belum siap. Lagian gue mau nikmati. Masa muda”

“Ih, ga baik tau. Ntar mana tau yang datang itu yang terbaik dikirimkan Tuhan gimana? Lagian menikah juga gak bakalan jadi penghambat untuk tetap nikmatin masa muda kok.”

“Ya ntar kalo udah siap dicari dong. Gur maunya kerja dulu, puas-puasin dulu solo traveling, kalo udah 27 baru deh mikirin soal pasangan.”

“Akan lebih baik kalo travelingnya sama suami. Ada yang jagain. Usia 27 itu udah kelewat batas. Udah tuir itu. Siapa yang mau coba? Umur segitu calon suaminya yah bapak-bapak hahah”

Begitulah perdebatan saya dengan teman saya, sebut saja namanya Mawar. Dia yang begitu merinci dan mematangkan diri dengan persiapan yang baik sedari sekarang. Dan saya sebaliknya. Masih saja bertingkah seperti anak-anak. Padahal jika dibandingkan usia, –ini yang membuat saya meneteskan air mata sambil berkata “setua itukah saya?” Hahah– dia statusnya sebagai adik saya, lebih MUDA.

So, gak ada yang tetap sama seperti dulu. Semua mengalami perubahan. Dari masa kanak-kanak yang cuma ngerti main. Masa remaja yang penuh dengan cinta monyet. Nah masa dewasalah kita mulai memikirkan cinta sejati dunia akherat, Eaaaaaakkk.

“There is nothing permanent except change.” Yap, gak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “There Is Nothing Permanent Except Change 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s