Book Review: Tasyahud Cinta di Kanada bersama Embun di Atas Daun Maple

Embun di Atas Daun Maple, itulah yang membuat saya tertarik dan meraihnya di rak toko buku terbesar di kota kami. Kata daun Maple membuat saya seakan langsung terbawa dan terseret ke benua nun jauh disana, saya sekan bisa melihat daun yang sangat terkenal itu berguguran dengan nyata.

Ternyata, selain daun Maple dan cerita yang berlatar di Negeri dengan julukan negara pecahan es ini, tentu latar belakang tokoh dalam cerita ini yang merupakan orang Teluk Kuantan. Teluk Kuantan adalah salah satu daerah yang ada di Propinsi Riau. Semakin membuat saya tertarik!

Dengan judul dan testimoni yang ditulis di cover buku, membuat saya berpikir novel ini adalah novel yang berisi kisah cinta, kegalauan, diantara dua hati, dan sebagainya. Tapi…. tidak seperti yang saya bayangkan.

Novel dengan menggunakan akur maju ini menampilkan tokoh utama yang bernama Sofyan, seorang pelajar muslim yang berasal dari Teluk Kuantan, Riau. Ia merupakan seorang yatim, dan punya seorang adik bernama Aini yang tinggal berdua dengan Emaknya di kampung. Sofyan ini ketika di Saskatoon, Kanada sering melakukan diskusi kecil tentang lintas agama dengan Kiara, gadis orthodox keturunan Rusia-Aceh, serta teman-temannya sesama pelajar. Sofyan ini dianggap paham agama Islam lebih dalam oleh teman-temannya.

Disitulah kehebatan Hadis Mevlana selaku penulis yang mampu menghadirkan tema-tema diskusi lintas agama dengan rapih tanpa menyinggung isu SARA. Dimana ia mendeskripsikan sang tokoh utama dengan sosok yang paham bukan hanya tentang agamanya sendiri, tetapi juga mengerti dengan agama orang lain. Sehingga tema-tema yang dibahas tidak hanya dijabarkan berdasarkan dari sudut pandang agama Islam saja, tetapi juga berdasarkan dari sudut pandang agama lainnya. Terdapat beberapa (kurang lebih sepuluh atau sebelas, saya lupa :D) tema diskusi yang diangkat oleh penulis dalam novel dengan cover berwarna dasar putih dengan taburan daun maple ini.

Namun, ada hal-hal yang berjalan secara tidak natural, saya rasa. Yaitu ketika tokoh utama, Sofyan bertemu secara tidak sengaja dengan dua orang paman Kiara, Moses dan Gamaliel. Penulis tidak berhasil membuat pembaca seperti mengalir begitu saja. Saya sebagai pembaca merasa itu kebetulan sekali. Selain itu, penulis juga kurang mendekatkan pembaca dengan tokoh utama. Kurangnya pengenalan yang mendalam tentang Sofyan membuat saya tidak dapat feel dengan Sofyan. Harusnya penulis bisa menjelaskan latar belakang Sofyan sehingga bisa melakukan diskusi lintas agama seperti itu. Dan satu lagi, saya merasa ada sedikit kebosanan ketika membaca novel Embun di Atas Daun Maple ini. Mungkin selain hal-hal yang sudah saya sebutkan, juga karena jalan cerita yang datar, kurang konflik yang menengangkan. Ini hanya seperti kumpulan diskusi-diskusi yang dibalut dengan sedikit cerita cinta.

Tapi secara keseluruhan novel ini layak untuk mengisi waktu luang Anda. Karena dalam setiap buku, apapun itu, baik fiksi maupun non fiksi, semuanya terdapat ilmu yang semakin memperluas wawasan kita. Mungkin rangkaian puisi-puisi yang disajikan penulis mampu menjadi obat dan menenangkan jiwa Anda. Selamat Membacaaaaaa 😀

Image : https://twitter.com/hadismevlana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s