Book Review : Mahamimpi Anak Negeri karya Suyatna Pamungkas

“Mahamimpi Anak Negeri”

Wow, menarik sekali judul buku yang covernya warna biru bercampur kuning tua. dengan empat orang anak yang sedang mendaki bukit. Keren!

Siapa yang tidak tertarik dengan judul buku ini coba? hehe Saya yakin semua anak negeri yang cinta Tanah Air dan masa depannya pasti tergugah ingin membeli dan membaca novel yang satu ini.

Sungguh, saya tertegun setelah membaca buku ini. Lalu bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya seperti Empat Pawana dalam mengejar cita-cita?”. Saya yang sudah disuguhkan kemudahan dalam menuntut ilmu, tanpa perlu mengarungi jalanan yang becek, bahkan tanpa berjalan kaki kesekolah. Saya yang sudah diajarkan Orang tua ilmu agama sedari kecil, tapi masih selalu malas pergi ke surau untuk mendalami ilmu agama. Ya Tuhan..

Jalan cerita yang disampaikan Penulis mengalir begitu saja. Dan yang saya suka ialah ketika kang Suyatna merangkai itu semua dengan pengetahuan yang begitu luas yang Beliau miliki. Terlihat sekali. Plato, Descartes aahhh banyak lagi nama-nama yang tak begitu saya kenali.  Konflik-konflk yang dibalut dengan filosofi. ya, filosofi. Bagaimana Sang Professor Culun, Darwin, yang selalu menanggapi celotehan Elang setiap kali mengeluh dengan kalimat-kalimat Filsufnya.

Empat Pawana dalam novel ini ialah Tegar, Darwin, Waris dan Elang. Mereka adalah anak yang tinggal di desa pelosok. jauh dari hiruk-pikuk kemegahan kota Jakarta ataupun Bandung. Mereka tak pernah terjangkau oleh kecanggihan dunia, melihat mobil saja mereka terperangah setengah mati. Tapi begitulah, mereka punya semangat bersekolah dan mengaji yang tinggi. Mereka rela berjalan berkio-kilo jauhnya ketika matahari masih tertidur, naik-turun bukit yang masih gelap hanya berbekal suluh, DEMI BERSEKOLAH. Malamnya mereka kembali membelah hutan ketika semua warga desa Bukit Bayur hendak beristirahat setelah penat penyadap pinus, DEMI MEMPELAJARI ISLAM. Subhanallah..

Namun, seperti pepatah. Tak ada gading yang tak retak. Saya tidak terlalu mengerti dengan jalan cerita milik Senja, anak kota yang menjadi teman Empat Pawana. Ketika Senja tiba-tiba menghilang dari kandang sapi tempat mereka tinggal, tiba-tiba di sub-bab berikutnya diceritakan ia sedang menjalani study S2 di Mesir. Muncul pertanyaan, mengapa Senja pergi begitu saja? lalu bersama siapa Senja tinggal hingga ia bersekolah di Mesir? Sebenernya sih iya, jalan ceritanya agak membosankan,ending yang tidak begitu wow hehe 😀

But, Over all, its a good novel! 

Indonesia butuh lebih banyak Empat Pawana untuk mengubah Indonesia menjadi lebih  maju. Anak Negeri yang tak pernah lelah menuntut ilmu. Ilmu yang menjadikan kita manusia yang lebih berrmanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s